Tingkat Efektivitas Transisi Pembelajaran Daring
![]() |
| (Gambar sekadar Ilustrasi diambil dari Google) |
Pembelajaran dalam jaringan atau yang lazim dikenal dengan istilah Daring merupakan jenis pembelajaran yang dilakukan menggunakan jaringan internet, tanpa ada tatap muka di dalamnya. Akhir-akhir ini istilah daring kembali marak di masyarakat , apalagi di tengah maraknya kemunculan Covid 19 yang telah menimbulkan Snowball Effect di segala aspek kehidupan, kemunculan virus ini pun memaksa kehidupan sosial harus berubah, tak terkecuali dalam bidang pendidikan, dimana metode pembelajaran kini ikut terseret dalam arus perubahan di tengah getirnya pandemi Covid 19. Tentu dengan adanya pengalihan metode pembelajaran daring kini menjadi wacana hangat di masyarakat terkhusus bagi mereka para pelajar.
Metode pembelajaran daring membutuhkan tanggung jawab,
kemandirian serta ketekunan karena dalam metode pembelajaran ini tidak ada yang
mengontrol proses belajar mengajar kecuali diri sendiri, karena dalam hal ini
peserta didik belajar secara otodidak tanpa pengawasan langsung dari guru,
mereka mengakses materi sendiri kemudian membaca dan berusaha untuk
memahaminya, dan mereka juga akan mengerjakan tugas yang diberikan baik dalam
latihan soal ataupun quis, serta akan mensubmit tugasanya secara mandiri.
Pembelajaran berbasis daring merupakan media pembelajaran yang variatif karena
di dalamnya berbagai fitur aplikasi disediakan secara digital, tentu daring ini
memiliki kelebihan dibanding dengan kelas konvensional karena peserta didik
bisa belajar kapan dan dimana saja, peserta didik memiliki daya kreatif yang
lebih tinggi, melatih kemandirian,berpengetahuan serta melek teknologi. Jika
dipandang menggunakan persfektif sosiologi pembelajaran daring ini memang tepat
untuk diterapkan di tengah kondisi covid 19, karena dalam ilmu sosiologi
interaksi sosial tidak hanya melalui tatap muka, karena interaksi bisa terjadi baik secara
langsung maupun tidak langsung, secara tidak langsung bisa melalui media masa.
Sesungguhnya penerapan daring ini diharapkan mampu
menciptakan kondisi pembelajaran yang efektif,efisien, serta bermutu, apalagi
ditengah maraknya pandemi covid 19, ini satu-satu nya solusi yang tepat sebagai
upaya memutus mata rantai penyebaran virus corona, karena pembelajaran daring
ini bisa dilakukan kapan dan dimana saja, kiranya melalui cerminan diatas sudah
terlihat bahwa daring juga memiliki sisi gelap dan sisi terang ,namun jika kita
telisik lebih jauh dengan berkaca pada realita saat ini pengalihan pembelajaran
daring dinilai tidak begitu efektif dan masih banyak persoalan yang dihadapi
disamping kelebihan yang dimiliki, jaringan koneksi internet satu- satu nya
faktor pendukung yang harus ada untuk mendukung pembelajaran daring, seperti
yang kita tahu bahwasanya tidak semua peserta didik tinggal di lingkungan yang
akses internetnya mendukung, banyak peserta didik ataupun sekolah yang terletak
di pedesaan yang tentu jaringan internetnya tidak mendukung, satu-satunya
permasalahan yang dihadapi mereka adalah susahnya sinyal untuk mengakses
internet, sehingga akibatnya mereka menjadi terkendala dalam mengikuti daring, belum lagi ketika mereka diberikan
tugas ataupun sejenis kuis yang menggunakan rentang waktu tertentu sementara
jaringan mereka tidak mendukung, namun disisi lain waktu terus mendesak mereka
untuk segera mensubmit tugas mereka.
Bisa dibayangkan bagaimana perasaan mereka saat dalam kondisi seperti itu,
bahkan hal yang miris untuk didengar ketika banyak dari para pelajar yang
sampai harus naik pohon agar mereka mendapatkan sinyal yang mendukung sehingga
mereka bisa mengikuti pembelajaran daring, sungguh perjuangan yang luar biasa
mereka rela berdiam diri di sebuah pohon
dibawah teriknya sinar matahari demi sebuah sinyal . Ini satu- satunya kondisi
yang sangat memprihatikan karena dengan mereka naik pohon tentu juga berbahaya
bagi mereka, oleh karennaya sinyal merupakan satu-satu nya penghambat
pembelajaran daring.Di samping itu para peserta didik harus memiliki fasilitas
yang memadai baik itu dari segi media pembelajaran dan juga kuota, kita tahu
bahwa peserta didik memiliki tingkat ekonomi yang berbeda-beda, tidak semua
peserta didik memiliki akses fasilitas yang lengkap, banyak dari mereka yang
tidak memiliki laptop atau bahkan hp sebagai sarana penunjang mereka untuk
mengikuti kelas online, terutama mereka yang berasal dari kalangan ekonomi
kelas bawah dengan adanya pengalihan pembelajaran mereka merasa
terbebani
karena untuk memenuhi kebutuhan mereka saja masih susah apalagi adanya tuntutan
daring yang mengharuskan mereka untuk selalu tersedia kuota. Ini hal yang
sangat bertolak belakang dengan kondisi perekonomian yang semakin tidak bagus
di tengah pandemi corona covid 19. Di tengah
ditulisnya naskah ini pemerintah menerapkan kebijakan untuk menjawab
persoalan kuota yakni berupa pembebasan kuota bagi provider untuk mendukung
pembelajaran daring, sesungguhnya ini merupakan sebuah harga sosial, tetapi
kembali pada permasalahan kondisi tempat tinggal yang susah tersentuh jaringan
internet ini tetap saja menjadi kendala bagi mereka meskipun sudah disediakanya
bantuan kuota untuk mendukung mereka mengikuti kelas online.
Di sisi yang lain adanya pengalihan kegiatan belajar ini
secara tidak langsung telah memicu disfungsi sosial karena status sosial mereka
tidak berjalan dengan maksimal sesuai dengan fungsinya, karena mereka yang
menyandang status sosial sebagai guru seharusnya peran mereka adalah mengajar
dan mendidik berinteraksi langsung. Namun dengan adanya daring mereka harus
berinterkasi di ruang maya dengan e-learningnya. Sesungguhnya dalam konteks
pembelajaran kehadiran sosial seorang Guru sangat penting dan terbukti membawa
hasil yang signifikan terhadap hasil belajar, sebagaimana dikatakan oleh Scholis Manta(2008) dimana
kehadiran sosial mampu meningkatkan proses pengajaran dan menambah pengalaman
pembelajaran di dalam kelas. Selain itu, kehadiran sosial mampu melatih
pembelajar untuk menerapkan dan mengembangkan kemampuan berkelompok
(collaboration) sebagai implementasi dalam pembelajaran skill abad ke-21
(Tantry,2018). Disamping itu di dalam kelas konvensional, kegiatan
berkomunikasi dalam berkelompok dapat dilakukan dengan mengidentifikasi isyarat
verbal yang didukung oleh isyarat non-verbal yang membawa informasi
sosio-emosional sehingga pembicara satu dengan yang lain merasakan kehadiran
fisik secara nyata (Short, Wiliams & Christie, 1976), salah satu bentuk
isyarat non verbal bisa kita lihat melalui ekspresi wajah seorang Guru, cara
mereka memandang peserta didiknya serta bisa dalam bentuk sentuhan seperti
bersalaman ataupun ketika Guru menunju ke siswanya, melalui hal-hal seperti itu
para peserta didik akan merasakan kehangatan belajar di kelas, karena Guru
tidak hanya sekedar sebagai Transfer of Knowledge, namun juga sebagai Transfer
of Value, dimana nilai-nilai yang ditransmisikan akan lebih dirasakan oleh
siswanya ketika mereka bisa beratatap muka secara langsung. Oleh karenanya
kehadiran sosial seorang Guru dalam kelas konvensional sangat penting, karena Guru
yang seharusnya memberikan tauladan dengan tindakan nyata di depan kelas kini harus
berinteraksi dengan terbatas di dunia digital.
Penguasaan teknologi yang belum merata juga menjadi salah
satu penghambat daring, hal ini perlu kita sadari bahwa lembaga pendidikan dari
tingkat sd sampai perguruan tinggi bahwa tidak semua dari mereka mampu
menguasai teknologi dengan baik,i
kesiapan sumber daya manusia adalah tuntutan yang justru lebih sulit
daripada kesiapan insfratruktur, karena tidak akan ada gunanya jika
insfratruktur dan fasilitas sudah memadai, namun pengguna insfratruktur baik
itu dari segi pendidik maupun peserta didik tersebut tidak mampu menjalankanya
dengan baik, ini sama saja dengan bohong, seperti kita tahu bahwa masih banyak
para pendidik terutama mereka yang usia tua masih kurang akrab dengan dunia
digital, sehingga mereka tidak begitu mahir dalam mengikuti perkembangan arus
teknologi, begitupun dari peserta didik mereka yang tidak memiliki akses
fasilitas tentu juga tidak begitu mengenal teknologi sehingga mereka tidak
terlalu fasih dalam mengoperasikan berbagai aplikasi, ini satu-satunya
tantangan dalam pembelajaran daring agar mampu menciptakan keefektifan dalam
proses belajar mengajar.
Berbagai fitur yang tersedia dalam pembelajaran daring baik
itu dalam bentuk aplikasi elearning,schology,WA grup,gogle clasrom,zoom dan
masih banyak yang lainya sehingga akan membuat para pendidik akan
menerapkan aplikasi yang berbeda, sehingga peserta didik harus mengikuti setiap
aplikasi yang diterapkan pengajarnya, hal ini justru membuat peserta didik
bingung karena setiap penyedia aplikasi memiliki aturan main dan fasilitas yang
berbeda-beda sesuai dengan kapasitas platformnya. Berbagai komentar dan keluh
kesah mengenai pembelajaran daring ini banyak disampaikan oleh mereka para
pendidik dan juga peserta didik, melalui media sosial komentar itu banyak
disuguhkan banyak dari mereka menyatakan bahwa mereka terkendala jaringan yang
tidak mendukung, disisi lain juga mereka banyak menyatakan bahwa metode belajar
daring ini tidak begitu efektif karena melalui kelas konvensional saja banyak
yang sulit untuk memahami yang disampaikan oleh pengajar, apalagi ketika
dihadapkan dengan ruang maya melalui kelas online tentu pemahaman yang didapat
tidak maksimal .
Meskipun banyak penerapan daring
menggunakan aplikasi zoom atau membagikan vidio pembeljaran, namun para peserta
didik tetap tidak begitu memahami,
karena terbatasanya waktu dan juga kebebsan bertanya yang terbatas di
ruang maya menyebabkan materi yang disampaikan tidak begitu memadai, sehingga
mereka memiliki pemahaman yang seadanya. Oleh karena berbagai kendala yang
dihadapi dalam pembelajaran daring sehingga terkadang peserta didik akan
dialihkan dengan pemberian tugas yang disetorkan dalam rentang waktu tertentu,
sesunggguhnya pemberian tugas disaat kondisi pemahaman peserta didik yang seadanya
justru akan membuat mereka tambah tidak paham dan semakin mumet. Dapat ditarik
kesimpulan melalui komentar mereka mengenai daring bahwa mereka lebih menyukai
belajar secara konvensional, karena kalau dijelaskan secara langsung lebih
paham, dibanding di rumah mereka masih agakbingung (
https://www.inibaru.id/hits/sistem-pembelajaran-daring-efektif-atau-nggak-ya)
Untuk mampu menciptakan proses
pembelajaran daring yang menyenangkan di tangah mewabahnya pandemi covid 19
tentu harus melalui kerjasama dari semua pihak.Kesiapan insfratruktur dan
sumber daya manusia menjadi hal terpenting dalam hal ini, agar semua daerah
mapu untuk tersentuh jaringan internet sehingga semua peserta didik mampu
mengakses internet dengan baik, disisi lain juga kehadiran sosial dalam
kegiatan daring perlu dilakukan, namun bentuk kehadiran sosialnya berbeda
dengan kelas konvensional dalam hal ini kehadiran sosial bisa dilakukan melalui
2 hal yang dapat yaitu, yang pertama, dengan memberi model petunjuk-petunjuk
kehadiran sosial. Hal ini dapat diwujudkan dengan pengajar memberikan dorongan
kepada pemelajar, menyebut nama pembelajar ketika sedang berdiskusi, memberikan
contoh perkenalan diri, dan yang paling penting adalah pengajar memberikan
contoh berkomentar dalam forum diskusi dalam bentuk ketika memberikan saran
pada pemelajar, mengevaluasi komentar pemelajar, dan bentuk refleksi diri. Hal
ini dapat memunculkan pembelajaran kolaboratif dan kepercayaan dalam
pembelajaran berkelompok sesuai dengan karakteristik kehadiran sosial dalam
kerangka CoI (Denoyelles, Zydney, & Chen, 2014). Yang kedua adalah
mengadakan kegiatan diskusi wajib dan dinilai. Hal ini dapat memunculkan
motivasi ekstrinsik pembelajar untuk berinteraksi dan berkontribusi dalam
kegiatan diskusi yang produktif, dalam hal ini guru hanya sebagai fasilitator.
Kiranya dengan diterapkanya pembelajaran
berbasis online ini tentu selain memiliki sisi positif dengan berbagai
kelebihan mampu meningkatkan daya kreatif,melatih kemandirian serta
berpengetahuan dan melek teknologi, namun disisi lain penerapan daring justru
memunculkan banyak persoalan di dalamnya berbagai kendala dialami dalam
pelaksananya, Insfratruktur dan fasilitas yang harus memadai yang merupakan
faktor pendukung kelas online, tetapi masih banyak daerah yang masih sulit
disentuh jaringan, disamping itu munculnya disfungsi sosial akibat peran guru
yang seharusnya memberi tauladan secara nyata di depan kelas kini mereka harus
berinterkasi di ruang maya melalui kelas online, kesiapan sumber daya manusia
yang justru merupakan faktor penting untuk mendukung penerapan daring secara
umum masih belum merata mampu menguasai teknologi dengan bai serta banyaknya
fitur aplikasi membuat peserta didik bingung karena setiap aplikasi memiliki
aturan yang berbeda. Oleh karenanya dengan berbagai kendala yang dihadapi
banyak komentar yang disampaikan melalui media masa yang menyatakan bahwa
pembeljaran daring dinilai kurang efektif untuk diterapkan, oleh karenanya
perlu dilakukan persiapan yang matang terkait insfratruktur dan kesiapan sumber
daya manusia, disamping itu kehadiran sosial diperlukan dalam pembeljajaran
daring meskipun dengan cara yang berbeda dengan kelas konvensional karena hal
ini mampu mendorong motivasi peserta didik sehingga tercipta suasana belajar
berbasis daring yang kondusif,efektif, serta efisien. Perlu dipahami juga bahwa
sehebat apapun kemajuan teknologi pembelajaran, oleh karenanya pembelajaran
konvensional tetap dibutuhkan karena pembelajaran konvensional merupakan
peengalaman terbaik, sehingga tidak seluruhnya pembelajaran konvensional bisa
tergantikan oleh teknologi.
Daftar Pustaka ;
Scollins-Mantha, B. (2008). Cultivating social
presence in the online learning classroom: A literature review with
recommendations for practice. International Journal of Instructional Technology
and Distance Learning, 5(3), 1-15.
Zydney, J.M. Denoyelles, A., & Seo, K. (2012).
Creating A Community of Inquiry in Online Environments: An Explorator Study on
The Effect of Protocols on Interactions With Asynchronous Discussions.
Computers & Education, 58, 1, 77-87
Short, J., Wiliams, E., & Christie, B. (1976). The
Social Psychology of Telecommunications. London: John Wiley & Sons.
Tantri, N.R.
(2018). How Far Do We Utilize The E-Learning Platform To Achieve 21st Century
Skills in Teaching and Learning Process in School Context? A Conceptual Review.
Diperesentasikan dalam English Teacher’s Best Practices, Universitas Negeri
Surabaya.
(
https://www.inibaru.id/hits/sistem-pembelajaran-daring-efektif-atau-nggak-ya)
diakses pada 5 April 2020
https://www.unila.ac.id/pembelajaran-daring/
diakses pada tanggal 5 April 2020
Tentang Penulis: Putu Mega Ulia
Dani, Ia merupakan Mahasiswi Jurusan Pendidikan Sosiologi S1
Universitas Pendidikan Ganesha-Singaraja- Bali. Hobi menulis. Ia juga Aktif di Organisasi
Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dengan jabatan Sekretaris Periode 2020/2021.
Dan penulis juga merupakan orang Bali Asli dengan segala kebudayaan dan atau karakteristik
kebaliannya.. Kerenkan!! he..he..
Universitas Pendidikan Ganesha-Singaraja- Bali. Hobi menulis. Ia juga Aktif di Organisasi
Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dengan jabatan Sekretaris Periode 2020/2021.
Dan penulis juga merupakan orang Bali Asli dengan segala kebudayaan dan atau karakteristik
kebaliannya.. Kerenkan!! he..he..


Komentar
Posting Komentar